Akhirnya hari H keberangkatan datang juga. Hari ini perjalanan panjang dimulai dengan menumpang pesawat Malaysian Air menuju Kuala Lumpur. Transit sebentar, lalu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Almaty dengan pesawat Air Astana.
Setelah ketemu counter Air Astana, aku mengantri. Hanya ada 1 orang di depanku. Tak lama, aku sudah berada di depan counter. Mulailah aku di tanya tanya.
" Where are you going ?"
" What are you doing in Kazakhstan ? Do you work there ?"
" What is your flight out from Kazakhstan ?
" Where do you go after Kazakhstan ? Show me your visa !"
Entahlah, apakah pertanyaan pertanyaan tersebut memang diperlukan ? Ataukah memang prosedurnya seperti itu? Yang pasti counter check in Air Astana ini tampak dingin dan angker .
![]() |
| Lounge Malaysian Air, untuk penumpang Air Astana juga |
Setelah aku tunjukkan tiket ke Bishkek dan aku menjelaskan bahwa visa ke Kyrgyzstan adalah Visa on Arrival, dan bisa diperoleh setelah mendarat di Bishkek nanti. Akhirnya prosedur check in selesai dan aku diarahkan menuju lounge Malaysian Air, yang disewakan juga untuk penumpang maskapai penerbangan lain, termasuk Air Astana.
![]() |
| Timetable Air Astana ke Almaty |
![]() |
| Pesawat yang akan membawaku ke Asia Tengah |
Saat keberangkatan, penumpang dipanggil untuk memasuki pesawat. Pramugari mulai menyajikan minuman dan refreshment. Aku minum champagne 2 gelas kecil. Tidak berapa lama, perut mulai terasa sedikit kembung. Wah, bahaya kalau dibiarkan. Bisa buang buang air terus selama perjalanan. Aku coba minum Norit (arang aktif untuk gangguan perut). Setelah makan, aku minum wine lagi, dan untunglah, gangguan perut sudah hilang... lega rasanya.
Setelah makan aku mulai memejamkan mata. Perjalanan selama 7 jam, kira kira 3-4 jam diantaranya aku berhasil tidur dengan nyenyak. O iya, kali ini aku terbang dengan maskapai Air Astana Kuala Lumpur - Bishkek dengan menumpang di Business Class. Alasannya adalah karena tiket murah sudah habis (aku terlambat melakukan booking). Kelas tiket yang ada saat aku booking, harganya hanya terpaut tipis dengan harga tiket Business Class. Alasan lainnya adalah aku butuh tidur yang cukup supaya kesehatan tidak drop karena kurang tidur.
Sebelum berangkat, aku terkena sakit batuk dan pilek. Biasanya batuk dan pilek ini lumayan lama, bisa berminggu minggu. Lalu, saat terbatuk batuk, biasanya akan memicu alergi dan gangguan sesak nafas (Asma). Ahh... itu hanya penyakit ringan, tinggal minum obat sebentar pasti sembuh. Tetapi... tunggu dulu, obat yang diminum adalah obat antihistamin. Semua obat batuk, alergi dan asma, semuanya mengandung antihistamin. Obat jenis ini tidak boleh diminum bersamaan dengan Diamox (Indonesia merk Glaucon). Lalu... untuk apa minum Diamox ? Diamox diperlukan karena dalam 2-3 hari yang akan datang, aku akan menaiki ketinggian maksimal sampai 4500 mdpl (4500 m above sea level). Untuk mencegah terkena penyakit altitude sickness, aku mesti menkonsumsi Diamox untuk mencegah penumpukan cairan tubuh pada paru paru dan jantung. Pada ketinggian di atas 2000m, orang rentan mengalami penyakit ini. Penyakit ini bisa mengakibatkan sakit kepala, kehilangan keseimbangan, sesak nafas, pingsan dan berakibat kematian. Idealnya, diatas ketinggian 2000m, setiap hari hanya boleh menambah ketinggian 500-800 meter saja. Ini disebut aklimatisasi
Pegunungan Tian Shan dilihat dari pesawat (klik disini untuk open video)
Tak terasa akhirnya pesawat berada diatas pegunungan Tian Shan, yang artinya aku mulai mendekati kota Bishkek. Tapi aku hanya melintas di atas Bishkek karena pesawat akan mendarat di Almaty, di negara tetangga, yaitu Kazakhstan. Sesaat pesawat mulai prosedur pendaratan di kota Almaty, untuk transit lagi.
Kesempatan transit di Almaty ini memang aku rencanakan mencari souvenit magnet kulkas. Aku langsung menuju ke Dutyfree. Setelah memilih-milih, aku menuju ke kasir untuk membayar. Petugas kasir menanyakan tiket tujuanku. Setelah tahu bahwa tujuanku adalah menuju Kyrgyzstan, petugas menolak pembelianku. Akupun jadi terheran-heran, mengapa aku tidak boleh membeli disana. Petugas menunjukkan selembar pengumuman, yang intinya adalah karena adanya kerjasama dalam bidang perpajakan antara Kyrgyzstan dan Kazakhstan, maka Dutyfree tidak diijinkan untuk menjual kepada penumpang tujuan Kyrgyzstan. Kesepakatan ini juga berlaku untuk beberapa negara "stan" lainnya, tetapi aku lupa negara apa saja yang termasuk. Walaupun sampai memohon-mohon untuk diijinkan membeli, mereka dengan muka dingin dan acuhnya menolak.
Aku mencoba di toko lainnya di area internasional di Airport di Almaty ini. Setelah memilih-milih, ternyata saat membayar aku disuruh memperlihatkan tiket pesawat tujuanku juga. Tak kehabisan akal, aku mencoba memperlihatkan tiket ku dari Kuala Lumpur. Petugas kasir menyangka tujuanku adalah ke Kuala Lumpur. Aku membayar dengan hati gembira, dan berlalu segera menuju kepesawat , karena waktu keberangkatan telah tiba. Negara-negara 'stan', termasuk Kazakhstan ini memakai huruf cyrillic (seperti Rusia), karena merupakan negara bekas jajahan Rusia. Perkiraanku bahwa mereka mengalami kesulitan membaca tulisan latin, ternyata benar. Ini yang ada dalam pikiranku saat menunjukkan tiket pesawat 'asal', yaitu Kuala Lumpur, bukannya menunjukkan tiket negara 'tujuan'. Mereka akan kesulitan membaca, yang penting tertulis nama kota, yang bukan anggota negara 'stan' Asia Tengah, akan mereka ijinkan untuk berbelanja.






