Monday, September 25, 2017

Hari H keberangkatan

Akhirnya hari H keberangkatan datang juga. Hari ini perjalanan panjang dimulai dengan menumpang pesawat Malaysian Air menuju Kuala Lumpur. Transit sebentar, lalu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Almaty dengan pesawat Air Astana.

Setelah ketemu counter Air Astana, aku mengantri. Hanya ada 1 orang di depanku. Tak lama, aku sudah berada di depan counter. Mulailah aku di tanya tanya. 
" Where are you going ?"
" What are you doing in Kazakhstan ? Do you work there ?"
" What is your flight out from Kazakhstan ?
" Where do you go after Kazakhstan ? Show me your visa !"

Entahlah, apakah pertanyaan pertanyaan tersebut memang diperlukan ? Ataukah memang prosedurnya seperti itu? Yang pasti counter check in Air Astana ini tampak dingin dan angker .
Lounge Malaysian Air, untuk penumpang Air Astana juga
Setelah aku tunjukkan tiket ke Bishkek dan aku menjelaskan bahwa visa ke Kyrgyzstan adalah Visa on Arrival, dan bisa diperoleh setelah mendarat di Bishkek  nanti. Akhirnya prosedur check in selesai dan aku diarahkan menuju lounge Malaysian Air, yang disewakan juga untuk penumpang maskapai  penerbangan lain, termasuk Air Astana.

Timetable Air Astana ke Almaty



Pesawat yang akan membawaku ke Asia Tengah


Saat keberangkatan, penumpang dipanggil untuk memasuki pesawat. Pramugari mulai menyajikan minuman dan refreshment. Aku minum champagne 2 gelas kecil. Tidak berapa lama, perut mulai terasa sedikit kembung. Wah, bahaya kalau dibiarkan. Bisa buang buang air terus selama perjalanan. Aku coba minum Norit (arang aktif untuk gangguan perut). Setelah makan, aku minum wine lagi, dan untunglah, gangguan perut sudah hilang... lega rasanya.
Setelah makan aku mulai memejamkan mata. Perjalanan selama 7 jam, kira kira 3-4 jam diantaranya aku berhasil tidur dengan nyenyak. O iya, kali ini aku terbang dengan maskapai Air Astana Kuala Lumpur - Bishkek dengan menumpang di Business Class. Alasannya adalah karena tiket murah sudah habis (aku terlambat melakukan booking). Kelas tiket yang ada saat aku booking, harganya hanya terpaut tipis dengan harga tiket Business Class. Alasan lainnya adalah aku butuh tidur yang cukup supaya kesehatan tidak drop karena kurang tidur. 

Sebelum berangkat, aku terkena sakit batuk dan pilek. Biasanya batuk dan pilek ini lumayan lama, bisa berminggu minggu. Lalu, saat terbatuk batuk, biasanya akan memicu alergi dan gangguan sesak nafas (Asma). Ahh... itu hanya penyakit ringan, tinggal minum obat sebentar pasti sembuh. Tetapi... tunggu dulu, obat yang diminum adalah obat antihistamin. Semua obat batuk, alergi dan asma, semuanya mengandung antihistamin. Obat jenis ini tidak boleh diminum bersamaan dengan Diamox (Indonesia merk Glaucon). Lalu... untuk apa minum Diamox ? Diamox diperlukan karena dalam 2-3 hari yang akan datang, aku akan menaiki ketinggian maksimal sampai 4500 mdpl (4500 m above sea level). Untuk mencegah terkena penyakit altitude sickness, aku mesti menkonsumsi Diamox untuk mencegah penumpukan cairan tubuh pada paru paru dan jantung. Pada ketinggian di atas 2000m, orang rentan mengalami penyakit ini. Penyakit ini bisa mengakibatkan sakit kepala, kehilangan keseimbangan, sesak nafas, pingsan dan berakibat kematian. Idealnya, diatas ketinggian 2000m, setiap hari hanya boleh menambah ketinggian 500-800 meter saja. Ini disebut aklimatisasi

Pegunungan Tian Shan dilihat dari pesawat (klik disini untuk open video)

Tak terasa akhirnya pesawat berada diatas pegunungan Tian Shan, yang artinya aku mulai mendekati kota Bishkek. Tapi aku hanya melintas di atas Bishkek karena pesawat akan mendarat di Almaty, di negara tetangga, yaitu Kazakhstan. Sesaat pesawat mulai prosedur pendaratan di kota Almaty, untuk transit lagi.

Kesempatan transit di Almaty ini memang aku rencanakan mencari souvenit magnet kulkas. Aku langsung menuju ke Dutyfree. Setelah memilih-milih, aku menuju ke kasir untuk membayar. Petugas kasir menanyakan tiket tujuanku. Setelah tahu bahwa tujuanku adalah menuju Kyrgyzstan, petugas menolak pembelianku. Akupun jadi terheran-heran, mengapa aku tidak boleh membeli disana. Petugas menunjukkan selembar pengumuman, yang intinya adalah karena adanya kerjasama dalam bidang perpajakan antara Kyrgyzstan dan Kazakhstan, maka Dutyfree tidak diijinkan untuk menjual kepada penumpang tujuan Kyrgyzstan. Kesepakatan ini juga berlaku untuk beberapa negara "stan" lainnya, tetapi aku lupa negara apa saja yang termasuk. Walaupun sampai memohon-mohon untuk diijinkan membeli, mereka dengan muka dingin dan acuhnya menolak.

Aku mencoba di toko lainnya di area internasional di Airport di Almaty ini. Setelah memilih-milih, ternyata saat membayar aku disuruh memperlihatkan tiket pesawat tujuanku juga. Tak kehabisan akal, aku mencoba memperlihatkan tiket ku dari Kuala Lumpur. Petugas kasir menyangka tujuanku adalah ke Kuala Lumpur. Aku membayar dengan hati gembira, dan berlalu segera menuju kepesawat , karena waktu keberangkatan telah tiba. Negara-negara 'stan', termasuk Kazakhstan ini memakai huruf cyrillic (seperti Rusia), karena merupakan negara bekas jajahan Rusia. Perkiraanku bahwa mereka mengalami kesulitan membaca tulisan latin, ternyata benar. Ini yang ada dalam pikiranku saat menunjukkan tiket pesawat 'asal', yaitu Kuala Lumpur, bukannya menunjukkan tiket negara 'tujuan'. Mereka akan kesulitan membaca, yang penting tertulis nama kota, yang bukan anggota negara 'stan' Asia Tengah, akan mereka ijinkan untuk berbelanja.


Saturday, September 9, 2017

Final Itinerary

Itinerary Final

6 Aug Jakarta - Kuala Lumpur
flight Malaysian Air 726 (04.25 - 07.25)
6 Ags Kuala Lumpur - Almaty (Kazahkstan)
flight Air Astana 936 (10:55 - 16:55)
6 Ags Almaty - Bishkek (Kyrgyzstan)
flight Air Astana 109 (18:00 - 18:55)
6 Aug Bishkek
Hotel Apple Hostel
Chymkentskaya 1B, 722110 Bishkek, Kyrgyzstan, Bishkek, KG
Latitude 42.8859104598147, Longitude 74.5651987195015
7 Aug Bishkek
Hotel Apple Hostel
8 Aug Bishkek - Osh
Rent SUV with driver, owner Almaz A +996777509253 or Whatsapp +996555455132
8 Aug Osh
Osh Guesthouse
Masalieva Street 8- 48, 714009 Osh, Kyrgyzstan, Osh, KG
Latitude 40.545936, Longitude 72.800111
9 Aug Osh - Sary Mogol
SaryMogol Guest house / Yurt Camp
Contact whatsapp Abdilla Tashbekov +996 556 09 26 27 

10 - 17 Aug Pamir Highway, starting in Tajikistan, to Dushanbe

Guesthouse / Hostel along the route

17 Aug Dushanbe (Tajikistan)
18 Aug Dushanbe (Tajikistan)
19 Aug Dushanbe - Dubai
Flight Somon Air SZ105 (19.45 - 22.25)
20 Aug Dubai - Jakarta


Flight Emirates 356 (04:10 - 15:40)

Rute dari dan ke Jakarta
Rute perjalanan darat
Start dari Bishkek, melalui Pamir dan Wakhan Valley, menuju Dushanbe
Rute Murghab sampai Khorog berada di Wakhan Valley

Mencari persewaan mobil

Setelah pesawat, selanjutnya mencari transportasi darat. Ada beberapa alternatif transportasi darat untuk tujuanku, yaitu dari kota Bishkek di Kyrgyzstan menuju ke kota Dushanbe di Tajikistan. Perjalanan sejauh 1500km ini bisa saja hanya ditempuh dalam waktu 2 hari 2 malam. Tapi berhubung waktu yang tersedia adalah 14 hari, pilihannya menjadi lebih bervariasi dan kesempatan untuk menikmati kehidupan bersama penduduk lokal akan lebih banyak.

Dari sekian banyak alternatif, aku memilih menyewa mobil SUV 4x4 supaya bisa pergi kemana saja kita inginkan. Sebelumnya aku mencari informasi melalui internet. Berikut ini beberapa referensi website yang penting :
1. Forum tripadvisor : forum travel, diskusi dan review destinasi seluruh dunia
2. Caravanistan.com : informasi, forum dan diskusi destinasi khusus Central Asia
3. Lil Nicki http://adventuresoflilnicki.com/solo-female-travel-tajikistan/
4. Goats on the Road https://www.goatsontheroad.com/

Lil Nicki dan Goats on the Road merupakan personal travel blog yang menceritakan secara detail rute, kondisi perjalanan dan apa saja yang akan kita temui dalam perjalanan. Semuanya ini berperan bagiku untuk menentukan jenis transportasi yang kita minati. Sehingga aku akhirnya memilih menyewa SUV.

Dari Tripadvisor dan Caravanistan, aku membuat topik untuk berbagi kendaraan dan biaya, dan mendapatkan teman yang lumayan umtuk meringankan biaya sewa SUV ini.

Sewa SUV untuk rute Bishkek ke Dushanbe ini kurang lebih

  • perhitungan harian , berkisar 150USD-200USD perhari berikut driver (sudah termasuk meal dan akomodasi supir)
  • perhitungan jarak kilometer, berkisar USD0.7 - 0.8 perkilometer, ditambah USD 15-20 perhari untuk meal dan akomodasi supir
Aku membayar USD1500 selama 10 hari dengan supir dari Bishkek ke Dushanbe sejauh 1600km, dengan mobil Mitsubishi Montero tahun 2002. Supirnya dijanjikan bisa bahasa Inggris dasar.

Pada saat perjalanan, nanti akan aku upload foto kendaraan dan supirnya 


Tuesday, July 18, 2017

How to go there

Maskapai penerbangan menuju Asia Tengah dari Indonesia, sama sekali tidak ada. Jauh lebih mudah menemukan maskapai penerbangan yang menghubungkan Indonesia dengan negara negara Eropa, Amerika, Australia, bahkan ke Afrika pun masih lebih mudah.
Kesulitan pemegang paspor Indonesia untuk menuju Asia Tengah, selain masalah visa masuk negara Asia Tengah adalah :
  1. Memilih negara transit yang tidak memerlukan visa. Beberapa penerbangan, transit di China, Rusia, Turki, India dan Uzbekistan, yang semuanya memerlukan visa
  2. Banyaknya jumlah transit yang diperlukan. Banyak penerbangan yang menawarkan transit di 2 atau 3 kota transit di beberapa negara yang berbeda. Terlalu banyak transit, selain melelahkan, juga menghasilkan total waktu yang lebih lama untuk mencapai kota tujuan kita
  3. Lamanya total waktu penerbangan. Hampir sebagian besar penerbangan menuju Asia Tengah memakan waktu lebih dari 20 jam, bahkan ada yang mencapai 48 jam
  4. Harga tiket yang mahal
Jadi dalam memilih penerbangan, aku mesti mencari paling ideal dari 4 faktor di atas. Akhirnya aku memutuskan memakai Malaysian Air ke Kuala Lumpur. Lalu terbang menuju Bishkek melalui Almaty. Beruntung waktu mengunjungi kedutaan Kazakhstan, aku sudah mendapatkan informasi bahwa transit di Kazakhstan tidak memerlukan visa. Total waktu penerbangan 18 jam
Pulangnya memakai maskapai Somon Air dari kota Dushanbe ke Jakarta dengan transit via Dubai (tidak memerlukan visa). Total waktu penerbangan 20 jam

Mencari penerbangan yang paling ideal dari 4 faktor diatas, benar benar memakan waktu, karena waktu keberangkatan hanya tinggal 2 minggu lagi.

Thursday, July 13, 2017

Batalnya rencana ke Kazakhstan

Setelah tahu sulitnya mengurus visa ke Kazakhstan, aku bukannya menyerah, tapi mencoba mencari infornasi , tepatnya konfirmasi, ke kedutaan Kazakhstan di Kuningan, Jakarta.
Aku ditemui oleh staf kedutaan yang berpenampilan agak unik. Wajahnya oriental seperti Cina, tetapi rambutnya kuning kecoklatan dan mata abu abu. Selain itu, petugas pria ini adalah seorang muslim, tipikal penampilan dan kepercayaan penduduk  negara Kazakhstan. Air muka dan pandangan mata yang dingin menambah uniknya penampilan petugas pria ini.  O iya... memang orang Asia Tengah berperilaku untuk tidak mudah tersenyum. 
Petugas menyampaikan bahwa hanya peserta pameran di Astana saja yang memperoleh fasilitas bebas visa. Menyadari sulitnya memperoleh visa Kazakhstan, aku memohon diberikan nomer kontak agen perjalanan yang pernah mengurus visa Kazakhstan.
Aku langsung mendatangi salah satu agen perjalanan yang berlokasi di sekitar KuninganKuningan juga. 
Aku bertemu dengan Dianry dari PT Tripuri Wisata. Beliau berjanji untuk segera mengurusnya. 
Setelah mengajukan itinerary  dan aku membayar lunas, aku baru menyadari bahwa waktu pengurusannya terlalu dekat dengan tanggal keberangkatan. Sehingga aku terpaksa membatalkan pengurusan visa ini, dengan resiko dipotong biaya administrasi 200.000 rupiah.

Thursday, July 6, 2017

Wild Idea

Suatu saat pada beberapa tahun yang lalu ....
Aku membaca blog Agustinus Wibowo mengenai perjalanannya di Asia Tengah. Terpikir olehku, suatu saat aku ingin menjejakkan kaki ke sana...

Pagi ini keponakanku Sweety menyampaikan bahwa dia akan libur kuliah selama beberapa minggu. Dia menyampaikan jadwal liburannya karena beberapa bulan yang lalu aku menanyakan apakah dia bisa membantu bekerja di toko. Jadwal liburannya berada di sekitar bulan Agustus 2017.

Aku ingat beberapa hari sebelumnya ada berita bahwa Kazakhstan sedang menggelar pameran berskala internasional di ibukota Astana, dan membuka kesempatan bagi pemegang paspor Indonesia untuk berkunjung dengan Visa on Arrival. Aku mulai teringat kembali keinginanku untuk singgah di Asia Tengah, ke negara-negara yang namanya berakhiran 'stan', yaitu Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Turkmenistan. Wah... mumpung ada kesempatan. Inilah saatnya untuk bisa berkelana ke negara negara eksotis itu.

Aku mulai menyisir satu persatu dari 5 negara Asia Tengah. Awalnya adalah Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan. Alasannya adalah karena 3 negara tersebut adalah yang paling mudah memperoleh visa untuk pemegang paspor Indonesia. (Untuk detail memperoleh visa, bisa dilihat di posting khusus visa untuk Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan). Akhirnya setelah mempertimbangkan persyaratan visa, dan waktu pengurusan yang terlalu dekat, aku memutuskan hanya 2 negara yang layak dikunjungi. Pertama adalah Kyrgyzstan. Kedua adalah Tajikistan